Sejarah dan Filosofi Kuliner Ketupat

Jalurpantura.com, Indramayu – Tidak hanya mudah didapati, olahan beras yang dibungkus dengan daun kelapa muda ini kerap menjadi makanan favorit oleh banyak kalangan. Ketupat selalu ditunggu-tunggu kaum muslimin saat merayakan kemenangan di hari raya Idul Fitri.

Namun di luar bentuknya yang khas, ketupat ternyata memiliki sejarah yang cukup panjang hingga seperti sekarang ini. Di Indonesia banyak versi yang beredar mengenai asal-usul ketupat. Salah satunya menyebut bahwa ketupat pertama kali dihadirkan oleh Sunan Kalijaga di Pulau Jawa.

Kabarnya, Sunan Kalijaga mengkreasi ketupat sebagai cara untuk berdakwah dan menggunakannya sebagai makanan khas menu pada hari raya. Pemilihan ketupat pun tidak sembarangan. Bahan-bahan ketupat sangat mudah dan murah untuk diperoleh warga, sehingga lebih mudah untuk mendekatkan diri kepada warga setempat.

Selain versi diatas, sejarawan Yahya Andi Saputra berkata bahwa ketupat sudah dikenal di daerah pesisir pantai sebelum Sunan Kalijaga membuatnya populer. Sebagaimana dilansir oleh halaman Merdeka, bahwa masyarakat Betawi pada masa lalu banyak yang tinggal di pesisir pantai dan sudah akrab dengan pohon kelapa.

Sehingga mereka pun memanfaatkan semua elemen pohon kelapa, termasuk daunnya. Daun-daun yang masih muda kemudian diolah untuk berbagai keperluan kuliner, termasuk membuat lepet dan ketupat.

Filosofi Ketupat

Ternyata, anyaman ketupat yang rumit memiliki filosofi makna yang tesirat di dalamnya. Salah satunya percaya bahwa anyaman daun kelapa tersebut melambangkan rumitnya kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia. Namun saat dibelah, putihnya beras menunjukan kesucian hati setelah diampuni dosa-dosanya oleh yang Maha Kuasa.

Sedikit berbeda, Di Jawa filosofi ketupat memiliki arti yang lebih dalam lagi. Seperti yang dilansir oleh halaman Tempo, ketupat atau kupat berarti Laku Papat. Yang artinya adalah 5 tindakan: lebaran, luberan, leburan, liburan, dan laburan.

Lebaran atau sudah usai, berarti menandakan berakhirnya bulan puasa. Luberan atau melimpah yang mengajarkan bersedekah atas rejeki yang melimpah. Leburan atau sudah habis, yakni sudah habis dosa-dosa dengan memaafkan kesalahan satu sama lain. Liburan, momentum santai untuk menyenangkan pikiran. Dan terakhir, Laburan, yang berarti manusia harus senantiasa menjaga kesuciannya.

Banyaknya sejarah dan filosofi mengenai ketupat menandakan begitu kaya budaya dari negeri Indonesia, sehingga setiap daerah pun memiliki maknanya masing-masing atas ketupat. Tetapi, siapa pun yang pertama kali membuatnya, kamu harus berterimakasih atas terciptanya salah satu kuliner khas Indonesia yang sangat lezat, bukan begitu? [MP/Tempo/Merdeka]