Novelis Ini Ternyata Seorang Tenaga Kerja Wanita Dari Indramayu

Jalurpantura.com- Pertama kali kita mendengar kata tenaga kerja wanita (TKW) maka pikiran kita langsung tertuju kepada sosok perempuan-perempuan muda yang aktif di medsos dengan tampilan yang trendi up to date dengan berbagai cerita yang mengiringinya, padahal di tengah keterbatasan waktu yang di milikinya mereka hanya sekedar melepas rasa kejenuhan dan melupakan sejenak  rasa rindu terhadap kampung halamanya .

Menjalani kehidupan menjadi TKW tentu sebuah pilihan yang sulit sebab mereka dipaksa untuk jauh dari keluarga dan orang-orang terdekatnya, ada kalanya mereka mendapati majikan yang bersikap kurang baik dan sering kali kita mendengar cerita miris yang menimpa mereka tapi tidak membuat mereka berhenti untuk berprestasi.

Namanya Iin Indrayani wanita kelahiran Indramayu 4 Agustus 1991 ini berbeda dengan kebanyakan pekerja migran lainnya, di tengah keterbatasan waktu yang dimiliki wanita yang di panggil akrab Iin ini mempunyai hobi di bidang penulisan bahkan sekarang dia telah menerbitkan sebuah mini novel tentang perjalanan hidupnya ketika dia menjadi pekerja migran di Hongkong beberapa tahun yang lalu dan diberi judul “Tasbih Kerinduan“ yang di terbitkan secara indie.

Menurutnya "menulis bagiku cara untuk melepas rasa kejenuhan sebab saya tidak seperti teman-teman yang lain yang dapat bebas pergi, juga menulis bagiku seperti sebuah candu“ katanya kepada Redaksi

Dia sudah menjadi pekerja TKW sejak usia 16 tahun selepas menamatkan pendidikannya di SMP 1 Balongan dengan menjadi domestic helper di Singapura tahun 2008 setelah pulang dari singapura  dia sempat kerja di pabrik konveksi yang berada di Cimahi namun itu tidak bertahan lama tahun 2010  dia menjadi TKW lagi kali ini negara Hongkong yang menjadi tujuannya dan kehidupan selama di Hongkong inilah yang menjadi seting mini Novel pertamanya.

Setelah menyelesaikan kontraknya di Hongkong tahun 2016 Iin kembali menjadi TKW, kali ini Taiwan yang menjadi tujuan berikutnya, disinilah ketertarikannya di bidang kepenulisan bermula, berbekal keahlian berbahasa Inggris dan Hindi yang didapatkan selama bekerja di Singapura  dia menjadi penerjemah film-film india di beberapa group Facebook yang di kelolahnya.

Dari situlah atas saran rekan facebook di grupnya yang  berjumlah puluhan ribu tersebut dia mengumpulkan catatan-catatan yang pernah dia buat untuk dibukukan, bahkan dia sekarang sedang mempersiapkan buku keduanya.

"Entah kenapa dengan menulis saya merasa menjadi diri saya seutuhnya, saya juga ingin membuktikan bahwa menjadi TKW pun bisa berprestasi“ katanya menutup pembicaraan dengan Redaksi. (joko/poto istimewa)