Jeritan Hati Seorang Single Lady Part. 1

Jalurpantura.com - Namaku Naifa. Aku seorang single lady dan aku sama sekali tidak pernah bercita-cita untuk menyandang predikat itu.
 
Sejak aku kecil, aku memimpikan menikah di usia muda agar suatu saat nanti mempunyai anak yang tidak jauh berbeda umurnya denganku.
Sepertinya "menyenangkan". Itu yang selalu ada dalam pikiranku jika membayangkan mempunyai anak bersama pasanganku nanti. 

Aku pernah berencana untuk menikah di usia 21 tahun dengan pacarku waktu itu. Tapi sayangnya pacarku berkata "belum siap" ketika aku ajak dia untuk meminta restu dari kedua orangtuaku. 


Sampai akhirnya aku tahu bahwa dia mempunyai wanita lain dan tiba-tiba menyebarkan undangan pernikahannya pada saat dia berumur 24 tahun. Padahal dulu dia pernah berkata akan menikah pada usia 27 tahun. 

Lihat!? Betapa tidak adilnya dia padaku!

Sejak saat itu, aku tidak percaya lagi dengan cinta. Menurutku, cinta itu hanyalah sebuah kata-kata yang hanya bisa dikatakan tanpa bisa dibuktikan.

***

Beberapa tahun kemudian.

Aku bekerja di EO (Event Organizer) yang mengharuskan untuk kerja cepat, gesit dan aku dituntut untuk mempunyai inisiatif sendiri bagaimana caranya agar acara berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun.

Aku pun mendapatkan honor yang cukup besar untuk satu acara, entah itu wedding, birthday ataupun sekedar party biasa. 

Sampai suatu ketika, entah kenapa kakiku mengalami bengkak yang semakin hari semakin membesar.
Aku dan keluargaku panik dan khawatir dengan keadaanku. Mereka berusaha membawaku ke banyak rumah sakit untuk menyembuhkanku. Sampai akhirnya, salah satu rumah sakit ternama di Bandung memvonis bahwa aku menderita syndrome neufrotik atau dalam bahasa Indonesianya kebocoran ginjal. 

Aku kaget mendengar kata-kata yang terlontar dari dokter ahli penyakit dalam itu. Ingin rasanya aku merobek kertas hasil laboratorium yang menuliskan bahwa aku menderita penyakit yang membuatku tidak punya harapan lagi untuk meraih mimpi-mimpiku yang tertinggal. 

"Aku benci dengan keadaanku, aku benci dengan diriku, aku benci dengan hidupku, aku benci dengan semua yang terjadi pada diriku. Aku benci semua ini, Tuhan!" Tangisku dalam setiap doa yang aku panjatkan

"Sabar Naifa, kamu pasti kuat!" seru ayahku, berusaha untuk menguatkan anaknya yang sedang rapuh. 

Bersambung...