Dalang Ki Ahmadi, Maestro Seni Indramayu

Jalurpantura.com - Tak banyak seniman tradisional Indramayu yang mempelajari dan mempraktikkan ajaran agama yang dianutnya secara konsisten dan tawadhu. Satu dari yang tak banyak itu adalah Ahmadi, seorang dalang wayang golek cepak/menak. Melalui media kesenian inilah Ahmadi berupaya memahami nilai-nilai kehidupan dan melakukan pencarian filsafat di dalamnya.

Ada hal yang selalu diingatnya dari omongan orangtuanya, yang juga dalang wayang golek cepak, mengenai definisi dalang. Secara garis besar ada dua jenis dalang, yakni ‘Dalang Tasjid’ dan ‘Dalang Hasbi’.

"Dalang Tasjid itu adalah dalang yang tak mengharapkan bayaran. Dalang itu contohnya adalah Sunan Kalijaga. Sedangkan Dalang Hasbi dibagi lagi menjadi empat golongan," tuturnya.

Empat golongan itu adalah ‘Dalang Makarya’, ’Dalang Micara’, ‘Dalang Mukti’, dan ‘Dalang Sejati’. Dalang Makarya adalah seseorang yang menjadikan dalang sebagai pekerjaan. Dalang Micara adalah dalang yang hanya bisa mendalang tanpa memahami filsafat dan karakter wayang. Dalang Mukti adalah dalang yang setengah mubaligh. “Dalang Sejati" cenderung seperti Dalang Tasjid, meski belum sampai ke situ,” tuturnya lagi.

Pandangan semacam itu banyak digenggam Ki Dalang Ahmadi sejak lama. Apalagi ketika ia berguru tarekat pada ulama kharismatik, seperti Abah Anom dari Tasikmalaya melalui Ustad Kurdi dari Sukaurip Kecamatan Balongan Indramayu. Ia belajar mengenai dzikir. Intinya, kata Ahmadi, adalah kalimat tauhid dan kalimat rasul. “Dalang wayang, bagaimana, menggonaken (menggunakan) kalimat la ilaha ilalahu," ungkapnya.

Sebuah penghayatan yang tidak tiba-tiba muncul, akan tetapi melalui sebuah proses yang panjang. Apalagi dunianya yang berkaitan dengan kiprah dalang, yang sesungguhnya, tak hanya memeberikan hiburan. Dalang dituntut menjadi seseorang yang mampu menyampaikan hikmah dan falsafah kehidupan melalui lakon-lakon yang ditampilkan.

Menurut Ki Dalang Ahmadi, “Kalau sekarang ini mungkin yang banyak adalah Dalang Makarya dan Dalang Micara,” tutur Ahmadi, yang juga pimpinan kelompok wayang golek cepak/menak “Sekar Harum”, Blok Anjun, Desa Pabean Udik, Kec. Indramayu, Kab. Indramayu.

Menjadi dalang, bagi Ahmadi, mungkin awalnya karena suratan sebagai seseorang yang berada di lingkungan keluarga dalang. Dari bapak, kakek, buyut, cangga adalah dalang. Garis keturunan dia berasal dari daerah Mangu, Yogyakarta, yang kemudian hijrah ke Pabean Ilir Indramayu.

Buyutnya bernama Wirya adalah dalang wayang golek cepak, yang kemudian berdiam di Anjun Paoman Indramayu. Kemudian menurun kepada Koja (kakek Ahmadi), dan Salam (ayah Ahmadi) yang juga dalang wayang golek cepak/menak.

Ahmadi yang lahir tahun 1947 mulai mendalang sejak tahun 1962. Selain manggung se-antero Indramayu-Cirebon, juga wilayah Brebes, Tegal, Subang, Karawang, hingga Jakarta. Bahkan ia juga pernah diundang manggung di negeri sakura, Jepang.

Sejak 1990-an era keemasan wayang golek cepak memang seakan meredup. Masa keemasan tahun 1960-an hingga awal 1970-an sudah berlalu. Pada masa keemasan, Ahmadi masih bisa mendapatkan order panggungan antara 20 hingga 28 per bulannya. Hal yang sama juga pada dalang wayang golek cepak lainnya.

Merosotnya order mulai terasa sejak 1980-an hingga tahun-tahun berikutnya. Tercatat pada era 2000-an order panggung hanya sekitar 7-10 dalam setahun. Kata Ahmadi, ada beberapa faktor penyebab kemunduran itu.

Pertama, masyarakat ternyata lebih memilih wayang kulit purwa.

Kedua, regenerasi dalang wayang golek cepak seperti mandeg. Seringkali seorang dalang tak mampu mewariskan kemampuannya dalam mendalang kepada anak-cucunya, hingga akhirnya ia meninggal.

Ketiga, serbuan kesenian yang lebih nge-pop seperti tarling, dangdut, hingga organ tunggal. Massa lebih memilih kesenian yang tampak lebih "ramai".

Dalam hal regenerasi, Ahmadi sendiri ternyata tak mampu menitiskan darah seni mendalang kepada anak-anaknya. Hal itu, karena adanya keterbatasan, yakni anak-anaknya berjenis perempuan. Begitu pula kelompok wayang goleknya. Satu-persatu panjak (nayaga) meninggal dan tak bisa regenerasi. Kalaupun Ahmadi mendapatkan panggungan, ia dibantu kelompok nayaga dari Juntinyuat maupun dari Tambi, yang merupakan generasi rekan dalang lainnya.

Ahmadi pernah mendapatkan beberapa penghargaan atas kiprahnya sebagai dalang. Ia juga pernah memperoleh bantuan seperangkat gamelan dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud. Hal itu merupakan sesuatu yang wajar, karena pengabdian dan konsistensi Ahmadi yang sudah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia dalang wayang golek cepak/menak.

Ia kini merasa sudah tua, walaupun tetap siap mendalang. Ada sesuatu yang menjadi kerisauan dia, yaitu tentang cerita wayang golek. Hal itu berkaitan dengan babad atau legenda dan cerita pokok semacam cerita panji. “Dulu saya punya catatannya dalam beberapa buku. Itu semua tentang cerita khusus wayang golek cepak atau menak. Cerita tersebut khas, dan mungkin tidak ada di daerah lain,” tuturnya.

Jika wayang kulit memiliki lakon babon bernama cerita Mahabharata dan Ramayana, wayang golek cepak/menak juga memiliki lakon babon seperti itu. Namun sayangnya, buku-buku cerita yang dia miliki, yang selama ini dia simpan di ‘para’ (di atas langit-langit rumah, di bawah genteng), keadaannya sudah hancur.

“Buku-buku tersebut sudah rusak, mungkin karena hawa yang panas atau terkena air hujan. Kertas-kertasnya sudah robek, pecah, tulisannya tak terbaca. ‘Betataran kabéh’,” ungkapnya seperti menyesali diri.

Salah satu cerita tersebut tentang “Pangeran Selarasa dari Negeri Campa”. Cerita dimulai, ketika Prabu Selangkara khawatir tahta kerajaannya di Negeri Campa direbut adik-adiknya. Melalui berbagai tipu muslihat, akhirnya dia dapat mengusir ketiga adiknya, yakni Selaswara, Selaganda, dan Selarasa.

Ketiga saudara tersebut terlunta-lunta dan sampailah ke sebuah daerah di Pulau Jawa bernama Mundu. Di daerah tersebut, mereka diterima seorang ulama bernama Kiai Lobama. Daerah tersebut merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Pulau Medanda dengan rajanya bernama Raja Kuswari.

Ternyata kehadiran tiga saudara dari negeri Campa di wilayah tersebut sudah diketahui ahli nujum istana, Sidik. Dia seperti menerima firasat yang buruk atas adanya tiga saudara tersebut. Segera ia menyampaikan kepada Raja Kuswari, bahwa kekuasaan raja bisa terlepas karena adanya tiga orang asing yang berasal dari Campa.

Peringatan dari ahli nujum Sidik itu disikapi Raja Kuswari dengan penyisiran dan penggeledahan terhadap seluruh rumah warga. Benar adanya, di rumah Kiai Lobama diketemukan tiga saudara dari Campa.

Upaya penangkapan segera dilakukan. Namun, tiga saudara tersebut berhasil melarikan diri dari kepungan prajurit kerajaan. Putri sang kiai juga ikut lari mengikuti tiga saudara tersebut. Akhirnya Kiai Lobama harus menanggung akibatnya. Ia diseret ke istana, dan dijatuhi hukuman bui di bawah tanah.

Di tempat lain Selaswara, Selaganda, dan Selarasa, serta putri kiai terlunta-lunta dalam pelarian. Masuk hutan keluar hutan, berbulan-bulan. Musim kemarau membuat mereka makin mengenaskan karena kelangkaan air. Selaswara meminta adiknya, Selarasa supaya mencari air.

Selarasa menyanggupi untuk mencari air ke luar hutan. Namun ternyata sumber air tak diketemukan juga. Selarasa justru menemukan sebuah goa. Dari dalam goa tersebut terdengar suara-suara.

Cerita tersebut masih panjang. Bukan hanya cerita itu saja yang menjadi kekhasan wayang golek cepak/menak. Masih ada ratusan cerita lainnya. Cerita-cerita yang, terus terang, selama ini tak dikenal oleh masyarakat umum. Ha itulah yang menjadi kekhasan, sekaligus kekayaan sastra dan seni. (Ditulis oleh Supali Kasim)